Pertanyaan yang sering diajukan seputar Bahan Bakar Gas (BBG)

Konverter kit produk dalam negeri menggunakan tabung fleksibel.
I. Seputar bahan bakar gas untuk kendaraan
a. Gas apa saja yang biasa dipergunakan untuk kendaraan?
Terdapat banyak gas yang dapat digunakan dibidang otomotif untuk kendaraan. Diantaranya adalah gas NGV, LGV, Hidrogen dan lain-lain. Gas NGV (Natural Gas vehicle) yang biasa dikenal dengan gas CNG (Compressed Natural Gas) dan LGV (Liquid Gas Vehicle) adalah gas yang biasa dipakai pada dunia otomotif. Sementara klasifikasi gas LGV menurunkan lagi dua gas yang biasa dipakai yaitu gas LPG dan gas Vigas. Gas Vigas adalah gas yang akan digunakan di Indonesia nantinya dengan oktan 98 dan hanya dapat ditemukan distasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Di Negara Jerman gas yang dipergunakan untuk klasifikasi LGV adalah LPG dan bahkan untuk kendaraan umum seperti bis dalam kota sudah menggunakan gas hidrogen. Hidrogen juga dapat dihasilkan dari air melalui proses elektrolisis, namun proses ini secara komersial lebih mahal daripada produksi hidrogen dari gas alam, seperti dihasilkan secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana (CH4).

Tahun Ini Pertamina Targetkan 128 Unit SPBG dan SPB Vi-Gas

Petugas mengisi bahan bakar gas (BBG) jenis gas alam terkompresi (compresed natural gas/CNG) ke bus Transjakarta
Senin, 16 Februari 2015 | 08:17 WIB - JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) pada akhir tahun ini menargetkan jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan SPB Vi-Gas mencapai 128 unit. VP Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir mengatakan, aktual jumlah SPBG yang dikelola Pertamina, baik yang bersumber dari APBN maupun penugasan hingga 2014 sebanyak 27 unit SPBG dan 7 unit MRU (Mobile Refueling Unit).

Akan tetapi, lanjut Ali, sebagian diantaranya masih belum beroperasi karena berbagai sebab, diantaranya karena ketiadaan pasar, masalah izin, dan juga masalah sosial. "Jumlah SPBG yang beroperasi saat ini sebanyak 6 unit di Jabodetabek dan 1 unit di Palembang dengan utilisasi yang masih di bawah 50 persen," kata dia dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2015).

Ali lebih lanjut bilang, untuk SPB Vi-Gas, Pertamina sejauh ini sudah mengoperasikan sebanyak 18 SPB Vi-Gas. Tahun ini, Pertamina menargetkan minimal sebanyak 26 SPB Vi-Gas baru yang dapat beroperasi sehingga total SPB Vi-Gas akan mencapai 44 unit.

Sementara itu, untuk SPBG, berdasarkan penugasan dari pemerintah, Pertamina akan membangun sebanyak 22 unit SPBG. Selain yang bersumber dari APBN, Pertamina bekerjasama dengan PGN akan mengembangkan SPBG Ecostation dengan target awal 25 unit SPBG Ecostation.

"Dengan demikian, diharapkan di akhir tahun, total SPBG yang sudah terpasang dan siap melayani masyarakat adalah sebanyak 74 unit SPBG dan 7 unit MRU," imbuh Ali.

Apabila digabungkan dengan SPB Vi-Gas, maka total unit penyaluran gas, baik dalam bentuk Envogas maupun Vi-Gas, tahun 2015 akan menjadi 128 unit SPBG dan SPB Vi-Gas.

Pertamina saat ini memasarkan Vi-Gas yang berbasis pada propane dan buthane dengan harga Rp 5.1 00 per liter setara premium. Adapun, Envogas dipasarkan pada harga Rp 3.100 per liter.



VIVA.co.id - Pengamat Kebijakan Energi, Sofyano Zakaria, menilai bahwa hal terutama yang harus dilakukan PT Pertamina untuk mempercepat konversi BBM (bahan bakar minyak) ke BBG (bahan bakar gas) adalah membuat peraturan yang mewajibkan agar seluruh angkutan umum menggunakan BBG.

Maka dari itu, pemerintah harus mendukungnya dengan menetapkan supaya setiap kendaraan angkutan umum dilengkapi converter kit (alat penambahan pada kendaraan) sehingga bisa menggunakan gas.

"Adanya converter kit maka otomatis ini bisa dimaknai sebagai pasar dari gas. Jika pasar sudah tersedia maka dengan sendirinya infrastruktur berupa SPBG akan menjadi bisnis bagi pihak swasta," tutur pria yang juga merupakan direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), itu kepada VIVA.co.id, Minggu 15 Februari 2015.

Dia pun memberikan pengertian, apabila ada pasar maka sudah pasti pebisnis atau investor akan dengan sendirinya membangun infrastruktur gas. Dengan demikian, katanya, pemerintah tidak akan tersibukkan dengan penyediaan infrastruktur gas (SPBG).

"Pemerintah sebaiknya mengeluarkan peraturan agar ke depan, setiap produksi kendaraan bermotor roda empat ke atas untuk angkutan umum harus diwajibkan melengkapi converter kit. Artinya, kendaraan tersebut telah terlengkapi dengan fasilitas dual fuel," tambah Sofyano.

Investasi SPBG

Di sisi lain, VP Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir, Minggu 15 Februari 2015, mengungkapkan mengenai investasi SPBG pemerintah dan pertamina. Untuk harga, Vi-Gas yang berbasis pada propane dan buthane saat ini dipasarkan pada harga Rp5.100 per lsp. Adapun, Envogas pada harga Rp3.100 per liter.

Aktual jumlah SPBG yang dikelola Pertamina, baik yang bersumber dari APBN maupun penugasan hingga 2014 sebanyak 27 unit SPBG dan 7 unit MRU. Akan tetapi, sebagian diantaranya masih belum beroperasi karena berbagai sebab, diantaranya karena ketiadaan pasar, masalah izin, dan juga masalah sosial.

Jumlah SPBG yang beroperasi saat ini sebanyak enam unit di Jabodetabek dan satu unit di Palembang dengan utilisasi yang masih di bawah 50%. Untuk SPB Vi-Gas, Pertamina sejauh ini sudah mengoperasikan sebanyak 18 SPB Vi-Gas.

Tahun ini, Pertamina menargetkan minimal sebanyak 26 SPB Vi-Gas baru yang dapat beroperasi sehingga total SPBVi-Gas akan mencapai 44 unit. Adapun, untuk SPBG, berdasarkan penugasan dari pemerintah, Pertamina akan membangun sebanyak 22 unit SPBG.

Selain yang bersumber dari APBN, Pertamina bekerjasama dengan PGN akan mengembangkan SPBG Ecostation dengan target awal 25 unit SPBG Ecostation. Dengan demikian, diharapkan diakhir tahun total SPBG yang sudah terpasang dan siap melayani masyarakat adalah sebanyak 74 unit SPBG dan 7 unit MRU.

Apabila digabungkan dengan SPB Vi-Gas, maka total unit penyaluran gas, baik dalam bentuk Envogas maupun Vi-Gas, tahun 2015 akan menjadi 128 unit SPBG dan SPB Vi-Gas. (ren)
 



Tanya jawab seputar Bahan Bakar Gas

Konverter kit produk dalam negeri menggunakan tabung fleksibel.
I. Seputar bahan bakar gas untuk kendaraan
a. Gas apa saja yang biasa dipergunakan untuk kendaraan?
Terdapat banyak gas yang dapat digunakan dibidang otomotif untuk kendaraan. Diantaranya adalah gas NGV, LGV, Hidrogen dan lain-lain. Gas NGV (Natural Gas vehicle) yang biasa dikenal dengan gas CNG (Compressed Natural Gas) dan LGV (Liquid Gas Vehicle) adalah gas yang biasa dipakai pada dunia otomotif. Sementara klasifikasi gas LGV menurunkan lagi dua gas yang biasa dipakai yaitu gas LPG dan gas Vigas. Gas Vigas adalah gas yang akan digunakan di Indonesia nantinya dengan oktan 98 dan hanya dapat ditemukan distasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Di Negara Jerman gas yang dipergunakan untuk klasifikasi LGV adalah LPG dan bahkan untuk kendaraan umum seperti bis dalam kota sudah menggunakan gas hidrogen. Hidrogen juga dapat dihasilkan dari air melalui proses elektrolisis, namun proses ini secara komersial lebih mahal daripada produksi hidrogen dari gas alam, seperti dihasilkan secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana (CH4).

Gas adalah alternatif pengganti BBM paling masuk akal

Bagi banyak kalangan, gas bisa dianggap sebagai alternatif paling masuk akal untuk menggantikan ketergantungan terhadap BBM. Rusia pun menyadari hal itu.

Gazprom yang merupakan perusahaan negara yang dikenal menyalurkan pemanas ke rumah di Rusia dan pabrik di Eropa berani bertaruh kalau gas adalah masa depan bagi industri mobil. Terlebih, harga gas lebih murah dibanding minyak dan Rusia merupakan pemilik kedua terbesar cadangan gas dunia, dibawa Amerika Serikat.

Perbedaan harga antara 1 galon BBM dengan gas setara 1 galon pun pun cukup mencolok yakni mencapai US$ 2 atau Rp 18 ribu. Karena itulah tidak mengherankan bila banyak warga Rusia melakukan konversi sendiri mobil mereka dari BBM ke gas.

Terlebih, di pasaran sudah banyak konverter yang dijual, bahkan di bengkel pinggir jalan dengan harga hanya sekitar US$ 1.000 atau sekitar Rp 9,6 jutaan saja.

Namun, sama seperti negara lain, masalah terbesar konversi BBM ke gas di Rusia adalah masalah pengisian bahan bakar. Sebab di sana hanya ada 267 stasiun pengisian gas untuk melayani 86.000 kendaraan.

"Gazprom menganggap pengembangan pasar bahan bakar gas alam sebagai bisnis inti yang menguntungkan. Perusahaan ini berencana untuk mendirikan sebuah pasar gas alam yang luas atas dasar ini," kata Gazprom dalam sebuah pernyataan seperti detikOto kutip dari New York Times, Senin (15/4/2013).

Salah satu upaya promosi yang hendak digalang oleh Gazprom adalah kenyataan kalau gas lebih irit dibanding bensin atau diesel. Begitu pula bila berbicara mengenai emisi, gas lebih ramah lingkungan.

"Masalah pertama adalah bahwa orang takut mobil mereka akan meledak," kata Gazprom.

Ketakutan yang menyerupai ketakutan orang Indonesia itu terjadi karena gas disimpan dalam tangki yang bertekanan tinggi. Untuk metana, tekanan di dalam tangki mobil adalah sekitar 100 kali lebih tinggi dari tekanan di dalam ban.

"Istri saya takut, tapi saya tidak keberatan. Dia berkata, 'Aku tidak akan mengendarai mobil ini, itu akan meledak." Tapi kemudian ia melihat tabungan, dan dia tenang," kata seorang warga Rusia bernama Igor A. Samarsky yang mengkonversi sendiri mobil Lada miliknya hingga menjadi lebih irit dari mobil hybrid seperti Toyota Prius.

Masalah kedua di Indonesia adalah kalau toh masyarakat Indonesia bersedia menggunakan Bahan Bakar Gas, terus Gas nya dari mana ? Jangan-jangan nanti buntutnya kekurangan  supply lagi, impor lagi trus ujung2nya subsidi lagiii .... hadeeeh !

Beralihlah ke Bahan Bakar Gas


Membengkaknya beban fiskal untuk membiayai anggaran subsidi bahan bakar minyak akhi-akhir ini kembali ramai dibicarakan di berbagai media. Umumnya pembicaraan terfokus pada wacana untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) antara lain ada yang mengusulkan pemerintah segera menaikkan harga BBM bersubsidi dan ada pula yang mengusulkan untuk melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi misalnya dengan menerapkan smart card, pembatasan ukuran silinder kendaraan, dan regionalisasi lokasi SPBU yang menjual BBM bersubsidi, dan sebagainya.

Secara garis besar usulan tersebut diatas dapat dikelompokkan kedalam usulan kebijakan berdasarkan mekanisme pasar yaitu menaikkan harga BBM dan usulan kebijakan non mekanisme pasar berupa penjatahan atau rationing. Dari seluruh wacana yang dikemukakan tersebut solusi menaikkan harga BBM merupakan solusi yang paling efektif untuk mengendalikan konsumsi BBM sekaligus untuk mengurangi beban fiskal bagi membiayai susbsidi BBM. Sedangkan solusi kebijakan non mekanisme pasar berdasarkan teori maupun praktiknya akan memerlukan biaya yang cukup besar dalam pengimplementasiannya dan memiliki moral hazard atau rawan untuk diselewengkan.

Dari simpang siur pembicaraan terkait wacana untuk mengurangi beban fiskal untuk membiayai subsidi BBM,pembicaraan untuk mengalihkan BBM bersubsidi ke gas (Bahan Bakar Gas:BBG atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles:LGV) sebagai bahan bakar kendaraan bermotor hampir tidak terdengar. Padahal diversifikasi bahan bakar kendaraan bermotor ini jika dilakukan bersamaan dengan penaikan harga BBM akan saling mendukung karena konsumen akan memiliki pilihan yaitu membeli BBM dengan harga relatif mahal atau beralih ke gas yang harganya lebih murah.

Kebijakan untuk beralih dari BBM ke gas ini pada dasarnya sudah dirintis pemerintah sejak tahun 1986. Namun setelah 26 tahun dilaksanakan kebijakan ini dapat dikatakan tidak berhasil dan bahkan semakin menurun yang ditandai sampai tahun 2010 semakin berkurangnya jumlah SPBG maupun SPBU yang menyediakan LGV. Salah satu faktor utama penyebabnya adalah harga BBM yang sangat murah sehingga tidak ada insentif ekonomi bagi pemilik kendaraan untuk beralih ke gas (BBG atau LGV).

Sebagai ilustrasi, pada suatu kesempatan penulis menumpang sebuah taksi yang sudah dilengkapi tabung gas dan converter kit Liquefied Gas for Vehicle (LGV). LGV adalah nama lain dari LPG atau Pertamina menjualnya dengan nama produk Vigas. Menurut sopir taksi yang kami tumpangi tersebut sudah banyak taksi yang dilengkapi peralatan converter kit agar bisa menggunakan LGV atau Vigas. Sewaktu kami tanyakan apakah taxi ini menggunakan LGV? Jawabannya belum Pak. Kenapa? Karena premium murah Pak.

Pendapat sopir taksi ini masuk akal dan benar karena dari sisi volume 1 liter Premium setara dengan 1,27 liter LGV. Harga LGV per liter Rp 3.600,- sehingga harga 1,27 liter LGV = Rp 4.572, sedangkan harga premium sebesar Rp 4.500/liter. Artinya LGV setara premium sedikit lebih mahal dari harga premium sehingga tidak menguntungkan untuk beralih ke LGV. Dengan demikian maka pembagian converter kit bagi kendaraan umum termasuk taksi dapat dikatakan akan sia-sia karena tidak menguntungkan bagi operator kendaraan umum. Selain dari itu premium tersedia disemua SPBU sedangkan LGV hanya ada di 10 SPBU di DKI Jakarta.

Namun demikian bagi taksi kelas mewah yang hanya bisa menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan tinggi banyak yang beralih ke LGV karena secara ekonomis jauh lebih menguntungkan.

Tulisan ini menyoroti permasalahan penggunaan bahan bakar gas (BBG) yang sering juga disebut sebagai Compressed Natural Gas fo Vehicle (CNV) dan LPG yang sering juga disebut sebagai LPG Autogas atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles (LGV) sebagai bahan bakar pengganti bahan bakar minyak terutama bagi kendaraan yang menggunakan bensin premium serta mengajukan usulan kebijakan yang layak untuk ditempuh dimasa yang akan datang sehingga diharapkan tumbuhnya kembali harapan untuk beralih dari BBM ke gas sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. 

II. MENGAPA PERLU BERALIH DARI BBM KE LGV 

Menurut data yang dirilis oleh World LP Gas Association (WLPGA) pada tahun 2010 lebih dari 17juta kendaraan bermotor di 53 negara menggunakan LPG sebagai bahan bakar alternatif menggantikan gasoil (bensin) dengan total konsumsi LPG mencapai lebih dari 22,8 juta ton pertahun yang disalurkan melalui lebih dari 57 ribu LPG Filling Station di seluruh dunia.

Turkey, Poland, Korea dan Italy serta Russia merupakan negara-negara pengguna LPG terbesar untuk kendaraan bermotor. Tabel berikut ini menunjukkan tingkat konsumsi LPG dan jumlah kendaraan yang menggunakan LPG serta jumlah stasiun pengisian LPG di beberapa negara.

Tabel 1. Tingkat Konsumsi LGV untuk Kendaraan Bermotor



011013tabel1.jpg 
Australia merupakan negara pengguna LPG perkapita terbesar untuk kendaraan bermotor yaitu mencapai 115 liter perkapita pertahun. Di Australia saat ini sekitar 550 ribu kendaraan bermotor dan 97% taxi menggunakan LPG sebagai bahan bakar. Di Australia LPG untuk kendaraan bermotor didistribusikan oleh lebih dari 3.200 gas station.

Keuntungan penggunaan LPG untuk kendaraan bermotor adalah emisi gas buang yang rendah, biaya bahan bakar yang lebih murah dibanding gasoline dan mesin kendaraan lebih awet.

Dari sisi volume konsumsi LPG rata-rata sekitar 25-28% lebih banyak dibandingkan bensin (gasoline), namun harga pasar eceran LPG perliter di Australia rata-rata 50% dari harga gasoline. Di Turki harga LPG Autogas sekitar 55% dari harga gasoline (RON 95).

Di Indonesia Pertamina melalui beberapa SPBU di Jakarta sudah memasarkan LPG untuk kendaraan bermotor dengan nama produk “vigas”.Vigas merupakan bahan bakar beroktan lebih tinggi dari 98 yang sangat bersih, melebihi Pertamax. Sebagai perbandingan bilangan oktan bensin premium adalah 88 dan bilangan oktan Pertamax adalah 92.

Pada harga minyak mentah USD 75/barrel dan kurs Rp 9.100/USD, harga vigas Pertamina Rp 3.600/liter dan harga bensin premium non subsidi Rp 5.900/liter. Dengan demikian harga retail vigas Pertamina sekitar 60% dari harga bensin premium non subsidi.

Harga LGV dinegara-negara pengguna utama seperti Turkey, Korea, Poland, Italy, Japan dan Australia bervariasi antara 50% sampai 60% dari harga gasoline. Grafik berikut ini menunjukkan perbandingan harga retail LGV terhadap harga retail gasoline di beberapa negara yang sudah menggunakan LGV.

Grafik 1. Perbandingan Harga Retail LGV terhadap Gasoline di Beberapa Negara



011013grafik1.jpg 
Harga retail tersebut diatas didasarkan pada kebijakan perpajakan yang khusus diberlakukan untuk LGV sebagai insentif untuk mendorong konsumen beralih dari BBM ke LGV. Grafik berikut ini menunjukkan insentif perpajakan yang diberikan terhadap LGV dibandingkan tarif pajak yang diberlakukan untuk gasoline (BBM).


Grafik 2. Perbandingan tarif pajak (Excise Tax) antara LGV dan Gasoline di Beberapa Negara



011013grafik2.jpg
Dengan insentif kebijakan perpajakan tersebut diatas, LPG Autogas merupakan satu-satunya bahan bakar alternatif pengganti BBM yang berhasil dan sukses dikembangkan secara global karena penggunaannya sama praktisnya dengan BBM dan harganya lebih murah dibanding BBM.
 

PENGHEMATAN PENGGUNAAN LGV DIBANDING BENSIN PREMIUM (NONSUBSIDI) 

Berikut ini adalah contoh perhitungan penghematan penggunaan LGV dibanding bensin premium (harga non subsidi). Perhitungan ini menggunakan asumsi: (a) ICP =USD 120/barrel; (b) kurs USD 1= Rp 9.200,-; (c) Harga premium = MOPS + Alpha +PPN(10%)+PBBKB(5%)+Margin SPBU(4%); (d)Harga retail LGV = CP Aramco + Alpha+PPN(10%)+PBBKB(5%)+Margin SPBU(4%). 


Tabel 2.

Perhitungan Penghematan untuk Kendaraan 7 penumpang dengan ukuran mesin 2000 cc yang digunakan sebagai kendaraan travel dan kendaraan pribadi
011013tabel1.jpg
Bagi kendaraan yang digunakan untuk travel penghematan lebih dari cukup untuk membeli conversion kit. Bagi kendaraan yang digunakan untuk pribadi nilai penghematan jauh dari mencukupi untuk membeli conversion kit.


Tabel 3.

Perhitungan Penghematan untuk Kendaraan 7 penumpang dengan ukuran mesin 2000 cc yang digunakan sebagai kendaraan travel dan kendaraan pribadi dengan perlakukan tarif pajak khusus untuk LGV PPN sebesar 5% dan PBBKB sebesar 2,5%.

011013tabel3.jpg
Penghematan bagi kendaraan yang digunakan untuk travel jauh lebih dari cukup untuk membeli conversion kit. Bagi penggunaan untuk kendaraan pribadi nilai penghematan masih belum cukup untuk membiayai conversion kit.


Tabel 4.

Perhitungan Penghematan untuk Kendaraan 7 penumpang dengan ukuran mesin 2000 cc yang digunakan sebagai kendaraan travel dengan perlakuan khusus untuk

LGV bebas PPN dan bebas PBBKB

011013tabel4.jpg
Dengan pembebsan PPN dan PBBKB bagi LGV, penghematan bagi kendaraan yang digunakan untuk travel jauh lebih dari cukup untuk membeli conversion kit. Bagi penggunaan untuk kendaraan pribadi nilai penghematan masih belum cukup untuk membiayai conversion kit.

Dari perhitungan penghematan akibat penggunaan LPG sebagai bahan bakar pengganti bensin premium dapat disimpulkan antara lain: 

(1)Mengganti premium dengan LGV (Vigas) sebagai bahan bakar kendaraan bermotor akan menghemat penggunaan BBM dan menghemat pengeluaran biaya untuk bahan bakar (sekitar 20% tergantung besar insentif PPN dan PBBKB); 

(2)Bagi konsumen semakinbesar cc kendaraan semakin besar penghematan. Semakin panjang jarak tempuh kendaraan pertahun semakin besar penghematan, sehingga untuk taksi dan kendaraan travel penggunaan LGV akan sangat menguntungkan;

(3) Bagi konsumen kendaraan pribadi untuk mendorong terjadinya pengalihan dari BBM ke LGV (Vigas) perlu diberikan insentif bebas PPN dan PBBKB sebagaimana dilakukan di negara-negara lain; 

(4)Harga converter kit juga mahal (Rp 9 jt – Rp 10jt) namun untuk kendaraan taksi dan travel biaya ini bisa ditutupi dari penghematan tahun pertama; 

(5)Untuk mendorong penggunaan LGV (Vigas) bagi kendaraan bermotor perlu diikuti dengan penghapusan subsidi harga bensin premium dan pemberian insentif pajak PPN maupun PBBKB untuk LGV (Vigas) serta pemberian insentif bagi pembelian catalytic converter kit LGV (Vigas). Di Australia pemerintah memberikan kebijakan harga khusus untuk catalytic converter; 

(6)Pertamina perlu menambah SPBU yang menyediakan LGV (Vigas) paling tidak di kota-kota besar di P.Jawa dengan harga pasar/keekonomian; 

(7)Subsidi terhadap LGV cukup diberikan atas subsidi PPN dan PBBKB saja sehingga kedepan pemerintah cukup meminta persetujuan DPR terkait pembebasan PPN dan PBBKB saja dan tidak direpotkan oleh urusan menaikkan harga LGV akibat kenaikan harga minyak mentah sebagaimana terjadi selama ini terhadap BBM bersubsidi. 

DAMPAK PENGGUNAAN LGV TERHADAP LINGKUNGAN 

LPG Autogas atau LGV menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih rendah dibandingkan gasoline. LGV memiliki gas buang lebih rendah 20% dibandingkan gasoline.

Dari penelitian yang dilakukan di Australia untuk jarak tempuh 10.000 km/tahun: (a) Kendaraan 4 silinder dengan konsumsi bensin 12 liter/100 km jika menggunakan LGV dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 420 kg/tahun; (b)Kendaraan 6 silinder dengan konsumsi bensin 15 liter/100km jika menggunakan LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 525 kg/tahun; (c)Kendaraan 8 silinder dengan konsumsi bensin 20 liter/100km jika menggunakan LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 700 kg/tahun.

Dengan asumsi untuk kendaraan 4 silinder dengan jarak tempuh 10.000 km/tahun dan konsumsi premium 12 liter/100 km (1.200 liter/tahun), jika bahan bakarnya dialihkan dari bensin premium ke LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 420 kg/tahun.

Jika 10 juta kiloliter bensin premium yang dikonsumsi dialihkan ke LPG maka potensi pengurangan emisi CO2 sebanyak 3,5 juta ton pertahun. Jika seluruh bensin premium yang dikonsumsi pada tahun 2012 (24,41juta kiloliter) dialihkan ke LPG maka potensi pengurangan emisi CO2 sebesar 8,5 juta ton pertahun. 

III. Compressed Natural Gas for Vehicle (CNV) atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles (LGV) 

Dalam upaya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor, sejak tahun 1986 pemerintah merencanakan akan melakukan kebijakan mendorong penggunaan bahan bakar gas (BBG) sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM yaitu CNV(Compressed Natural Gas for Vehicles)sering juga disebut sebagai CNV dan LGV (Liquified Petroleum Gas for Vehicles) atau sering disebut LPG Autogas yang dipopulerkan oleh Pertamina dengan nama Vigas. Kebijakan ini selain bertujuan untuk meningkatkan bauran energi juga untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM serta untuk mengurangi beban fiskal untuk membiayai subsidi harga BBM.

Kebijakan penggunaan BBG ini ternyata mendapatkan reaksi yang beragam dari masyarakat antara lain misalnya dari produsen otomotif. Pihak industri otomotif misalnya masih menunggu kepastian kebijakan yang akan ditempuh pemerintah apakah akan mendorong penggunaan CNV atau LGV. Sikap ini bisa dipahami mengingat jenis converter kit yang akan digunakan berbeda teknologi dan harganya, sehingga kendaraan yang dipasangi converter kit CNV tidak bisa menggunakan LGV dan sebaliknya kendaraan yang dipasangi converter kit untuk LGV tidak bisa menggunakan CNV. Tabel berikut ini menjelaskan perbedaan antara CNV dan LGV termasuk perbedaan dalam penyediaan ukuran tanki gas yang akan dipasang di kendaraan dan infrastruktur yang diperlukan serta kemudahan dan waktu yang diperlukan dalam penyediaan BBG tersebut.


Tabel 5. Perbandingan CNV dan LGV

011013tabel5.jpg
Selain faktor diatas kita juga perlu belajar dari pengalaman negara lain yang sudah lama menggunakan CNV dan/atau LGV sebagai informasi pembanding yang layak untuk dipertimbangkan sebelum kebijakan penggunaan CNV dan/atau LGV ditetapkan. Berdasarkan data 10 negara terbesar yang menggunakan CNV dan/atau LGV sebagian besar hanya menggunakan salah satu jenis bahan bakar gas yaitu CNV atau LGV. Tabel berikut ini memberikan informasi tentang jumlah kendaran pengguna CNV atau LGV pada 10 negara pengguna BBG terbesar.



Tabel 6. Negara-Negara Pengguna CNV dan LGV

011013tabel6.jpg
Dari tabel diatas jelas terlihat hanya 3 negara yang menggunakan CNV dan LGV secara bersamaan yaitu Italy, China dan Thailand. Sedangkan 4 negara pengguna terbesar CNV tidak/belum menggunakan LGV dan sebaliknya 4 negara pengguna LGV terbesar kecuali Italy tidak/belum menggunakan CNV. 

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memiliki sumber gas alam yang cukup berlimpah namun sebagian besar sudah terikat kontrak ekspor jangka panjang maupun untuk kebutuhan domestik seperti untuk pabrik pupuk/petrokimia dan untuk pembangkit listrik sehingga diperlukan waktu paling cepat antara 5 sampai 10 tahun untuk dapat meningkatkan pasokan gas bagi memenuhi kebutuhan transportasi domestik. Selain dari itu juga dibutuhkan pembangunan infrastruktur untuk mengangkut gas dari lapangan produksi ke sentra-sentra konsumen terutama di P. Jawa, Bali dan Sumatera sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan infrastruktur tersebut. Jika pembangunan jaringan perpipaan untuk mengangkut gas tidak dimungkinkan maka perlu dibangun LNG Receiving terminal di sentra-sentra konsumsi gas terutama di P. Jawa dan Bali yang tentunya juga memerlukan waktu yang cukup lama. Dengan kondisi tersebut maka kebijakan penggunaan NGV dalam waktu dekat (sampai 2015) sebagai bahan bakar alternatif bagi kendaraan bermotor akan sangat terbatas sekali karena kendala ketersediaan gas dan ketersediaan infrastruktur sehingga kebijakan ini cocok untuk dikembangkan dalam jangka panjang 10 atau 20 tahun mendatang. Namun sebagai tahap awal kebijakan ini bisa dimulai sesuai dengan ketersediaan gas yang ada dan hanya difokuskan bagi kendaraan umum berukuran besar seperti angkutan bus di wilayah Jabodetabek, Surabaya dsb.

Dari gambaran diatas jelas terlihat bahwa penyediaan bahan bakar alternatif dalam jumlah besar dan waktu yang relatif lebih cepat adalah LGV. Berdasarkan pengalaman negara yang sudah lama menggunakan LGV kiranya perlu disusun perencanaan yang komprehensif mulai dari penyediaan gas LPG, penyediaan converter kit dan tanki LGV untuk kendaraan, sampai pembangunan dispenser LGV di setiap SPBU. Perencanaan tersebut juga memuat insentif kebijakan yang perlu/layak untuk diberikan sebagaimana juga dilakukan oleh negara-negara yang sudah lama menggunakan LGV. 

IV. INSENTIF DAN USULAN KEBIJAKAN UNTUK BERALIH DARI PREMIUM KE LGV 

Berdasarkan pengalaman negara-negara yang sudah sukses mendorong penggunaan CNV dan LGV diperlukan suatu kebijakan yang komprehensif jangka panjang agar kebijakan pengalihan dari BBM ke CNV dan LGV bisa dilaksanakan dengan baik. Kebijakan tersebut antara lain:
  • Insentif fiskal: (1) keringanan pajak penjualan dan bea balik nama kendaraan yang sudah dilengkapi converter kit; (2) keringanan pajak sampai penyediaan secara gratis converter kit; (3) keringanan pajak sampai pembebasan pajak terhadap BBG dan LGV; (4) keringanan biaya pendaftaran kendaraan (BPKB, STNK, Pajak Kendaraan Bermotor) yang sudah dilengkapi converter kit BBG/LGV; (5) depresiasi secara cepat nilai kendaraan komersial yang menggunakan BBG/LGV; (6) keringanan biaya parkir di pinggir jalan bagi kendaraan BBG/LGV;
  • Insentif regulasi antara lain: (1) Mewajibkan semua kendaraan dinas dan kendaraan umum dilengkapi converter kit; (2) Menetapkan standar emisi gas buang yang sangat ketat; (3) membebaskan kendaraan berbahan bakar gas melalui jalan dengan restriksi (seperti jalan three in one);
  • Insentif bagi penelitian dan pengembangan kendaraan berbahan bakar non BBM.
Insentif kebijakan yang mungkin diberikan akan sangat tergantung pada data/statistik kepemilikan kendaraan yang pada dasarnya sudah terdata dengan baik. Dari data ini kemudian ditentukan jenis kendaraan apa saja yang akan diberi insentif pemasangan converter kit berikut tangki LGV dan juga kategori pemilik kendaraan yang layak untuk mendapatkan insentif tersebut. Sebagai bahan pemikiran awal misalnya insentif hanya diberikan kepada keluarga/perorangan yang hanya memiliki 1 (satu) kendaraan dengan ukuran silinder mesin 2000 cc kebawah. Selebihnya keluarga yang memiliki lebih dari satu kendaraan atau memiliki kendaraan dengan ukuran silinder diatas 2000 cc dianggap sebagai keluarga/perorangan yang berkemampuan sehingga tidak diberikan susbsidi.

Untuk mendorong pemilik kendaraan bermotor yang tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk memasang converter kit berikut tangki LGV dikendaraannya, pemerintah bisa memberikan insentif dalam bentuk pengurangan pajak kendaraan bermotor, karena penggunaan LGV memberikan dampak positif terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.Opsi atau pilihan kebijakan penggunaan LGV berikut ini juga dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan di Indonesia:
  • Pemerintah memberikan grants dalam jumlah tertentu untuk biaya konversi kendaraan dari motor bensin/solar ke motor menggunakan vigas. Di Australia grants diberikan bervariasi dari AUS$ 1.000 sampai AUS$ 2.000 per kendaraan. Biaya konversi di Australia berkisar antara AUS$ 2.500 sampai AUS$4.500 per kendaraan.  
  • Pemerintah memberikan pembebasan PPN terhadap harga converter kit dan tangki vigas.
  • Pemerintah memberikan insentif berupa pemotongan biaya pendaftaran kendaraan (BPKB, STNK, Pajak kendaraan bermotor) terhadap kendaraan yang menggunakan vigas. Di Australia Pemerintah memberikan pemotongan sebesar 20%.
  • Pemberian insentif ini diberlakukan dalam kurun waktu tertentu untuk mendorong pemilik kendaraan bermotor melakukan konversi. Setelah batas waktu tersebut tidak diberikan lagi insentif. Di Australia diberikan waktu 2006-2014 dengan jumlah insentif yang semakin menurun.
  • Pemerintah memberikan insentif eco car kepada ATPM termasuk pembuatan kendaraan yang sudah dilengkapi converter kit dan tangki vigas.
  • Pemerintah memberikan insentif berupa pengecualian atau perbedaan tarif PPN dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) terhadap harga jual vigas. Di sisi lain harga bensin premium dan solar diberlakukan harga pasar dan dikenakan PPN dan PBBKB. Di Australia sejak 2006 diberlakukan excise-free untuk LPG Autogas sampai tahun 2011. Untuk gasoline dikenakan excise tax sebesar A$ 38,1 cents/liter.

Program penyediaan LGV ini dilakukan dengan pendekatan wilayah sebagaimana telah dilakukan pada program pengalihan minyak tanah ke LPG seperti misalnya dimulai dari wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Setelah pembangunan dispenser LGV disetiap SPBU di wilayah tersebut selesai dan LGV sudah terdistribusikan serta pemasangan converter kit berikut tangki LGV bagi pemilik kendaraan bermotor yang layak mendapatkan subsidi selesai dilakukan maka bensin premium RON 88 ditarik dari peredaran dan diganti dengan bensin super RON 90 yang dijual dengan harga keekonomian. Kebijakan mengganti bensin premium 88 dengan bensin super RON 90 dapat menghindari/mengurangi dampak inflasi langsung berupa kenaikan harga BBM karena bensin super RON 90 merupakan produk baru yang sebelumnya tidak diperdagangkan.

Sebagai penutup, penyediaan converter kit berikut tangki LGV bagi pemilik kendaraan yang akan mendapatkan subsidi dariPemerintah seyogyanya disediakan oleh Pemerintah bekerjasama dengan bengkel ATPM, sedangkan untuk pemilik kendaraan lainnya semaksimal mungkin disediakan melalui mekanisme pasar karena cukup banyak produsen converter kit maupun tangki LGV yang mampu menyediakannya dalam jumlah besar seperti produksi Italy, Korea dsb. Tentunya produk tersebut harus memenuhi SNI dan pemasangannya dilakukan oleh bengkel yang memiliki otorisasi agar faktor keselamatan (safety) terjamin dengan baik. 

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Autogas Incentive Policies, country-by-country analysis of why & howgovernments promote Autogas & What Works, World LP Autogas, 2011.
  2. Australian Autogas, Past,Present & Future (Presentation material), James Batchen,LPG Australia, 2011.
  3. Trends in Global LPG Supply & Demand (Presentation material), Purvin & Gertz, Inc, 2008.
  4. LPG (Vigas) sebagai Pengganti Premium untuk Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (Menghemat Pengeluaran Konsumen, Mengurangi Subsidi BBM dan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca), Bahan Presentasi, Chairil Abdini, Desember 2011.
  5. LP Gas: An Energy Solutionfor a Low Carbon WorldA Comprehensive Analysis Demonstrating theGreenhouse Gas Reduction Potential of LP Gas, World LP Gas Association, 2007.

LPG Pertamina


ELPIJI adalah brand PERTAMINA untuk LPG (Liquefied Petroleum Gas). LPG merupakan gas hidrokarbon produksi dari kilang minyak dan kilang gas dengan komponen utama gas propane (C3H8) dan butane (C4H10).

Pada tekanan atmosfir, LPG berbentuk gas, tetapi untuk kemudahan distribusinya, LPG diubah fasanya menjadi cair dengan memberi tekanan. Dalam bentuk cair, LPG mudah didistribusikan dalam tabung ataupun tanki.

Di Indonesia, LPG digunakan terutama sebagai bahan bakar untuk memasak. Konsumen LPG bervariasi, mulai dari rumah tangga, kalangan komersial (restoran, hotel) hingga industri. Di kalangan industri, LPG digunakan sebagai bahan bakar pada industri makanan, keramik, gelas serta bahan bakar forklift. Selain itu, LPG juga dapat digunakan sebagai bahan baku pada industri aerosol serta refrigerant ramah lingkungan.

Mengapa memilih LPG?

Dibandingkan dengan bahan bakar lain, penggunaan LPG lebih menguntungkan:
  • Bersih: Hasil pembakaran LPG bersih dengan emisi yang rendah.
  • Stabil: Pembakaran LPG menghasilkan nilai kalori yang tinggi dan stabil.
  • Fleksibel: LPG dapat didistribusikan ke daerah manapun menggunakan skid tank ataupun tongkang, hingga ke daerah yang jauh dari supply point.
  • Cocok untuk produk yang sensitif dalam hal bauHasil pembakaran LPG tidak meninggalkan bau, sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan bakar ataupun bahan baku untuk industri yang produknya sensitif terhadap bau.
  • Ramah lingkungan: Karena hasil pembakaran LPG yang bersih, penggunaan LPG akan ikut menunjang tuntutan dunia akan penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan.
  • Cost reduction: Penggunaan LPG yang hemat serta rendahnya biaya maintenance peralatan dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan bakar dan maintenance peralatan.
Elpiji 3 KG

Elpiji kemasan 3 Kg merupakan solusi PERTAMINA dalam melaksanakan program diversifikasi energi yang dicanangkan pemerintah: mengkonversi penggunaan minyak tanah menjadi Elpiji.         

Kecil bentuknya, dahsyat kekuatannya!

Temukan lokasi pembelian ELPIJI 3 Kg terdekat.

Bukan merupakan kelompok konsumen yang berhak menerima Elpiji 3 Kg? Jangan kecewa, mengapa tidak menggunakan Elpiji kemasan lainnya saja? Kami juga menyediakan Elpiji dalam kemasan:

    - Elpiji 12 Kg
    - Elpiji 50 Kg
    - Safety Tips


Mengapa beralih ke Elpiji? Apa keuntungannya dibandingkan menggunakan minyak tanah?
Elpiji merupakan merk PERTAMINA untuk LPG, yaitu gas hidrokarbon dengan kegunaan utama sebagai bahan bakar. Untuk keperluan memasak, LPG telah digunakan secara luas di seluruh dunia, karena nilai panas yang tinggi, kontrol panas yang stabil dan mudah, praktis, bersih (tidak meninggalkan jelaga), dan tidak meninggalkan bau pada makanan.

Bukankah Elpiji itu mahal?
Elpiji tidak mahal, bahkan survey membuktikan bahwa penggunaan Elpiji lebih hemat daripada minyak tanah.

Mengapa kemasan 3 Kg?
Penggunaan kemasan 3 Kg mempermudah pengguna dalam melakukan pembelian refill di muka, karena uang yang dibelanjakan tidak sebesar jika menggunakan kemasan Elpiji yang lebih besar.

Apakah menggunakan Elpiji tidak berbahaya?
Elpiji didesain dalam kemasan tabung yang sudah sesuai dengan standar, serta diuji secara berkala. Tekanan Elpiji di dalam tabung jauh di bawah tekanan pecahnya tabung. Jika tekanan gas dalam tabung berlebih, tekanan ini akan diseimbangkan menggunakan safety valve.

Bagaimana cara saya mendapatkannya?
Sayangnya produk ini belum dijual bebas. Untuk mendapatkannya, Anda haruslah merupakan konsumen minyak tanah yang belum pernah menggunakan Elpiji kemasan lainnya. Jika Anda merupakan kelompok konsumen ini, dan jika daerah Anda sudah ditetapkan sebagai target konversi, maka Anda akan didata dan dibagikan perangkat kompor, tabung Elpiji 3 Kg beserta isi perdana, serta accessories kompor secara cuma-cuma. Tidak dipungut bayaran dalam proses ini. Berhati-hatilah terhadap pihak yang mengatasnamakan PERTAMINA dan mewajibkan Anda membayar sejumlah tertentu untuk diikutkan dalam program konversi minyak tanah ke Elpiji.

Elpiji 12 KG
Jika rumah Anda tidak dilalui oleh jalur gas kota, maka Elpiji 12 Kg merupakan pilihan yang tepat untuk memasak. Dibandingkan dengan bahan bakar lainnya, Elpiji adalah gas yang dikemas dalam bentuk cair, memiliki nilai panas yang tinggi, besar kecilnya api mudah diatur. Selain itu, keunggulan lain dari Elpiji adalah merupakan bahan bakar yang bersih, dalam arti tidak menimbulkan jelaga/membuat hitam peralatan memasak ataupun dinding dapur, dan juga tidak menimbulkan bau pada masakan Anda.

Selain untuk memasak, Elpiji 12 Kg juga dapat digunakan untuk water heater. Diperkirakan saat ini lebih dari 6 juta keluarga sudah mempercayakan keperluan memasaknya kepada Elpiji 12 Kg. Mengapa tidak bergabung sekarang?

Elpiji 50 KG

Solusi yang tepat untuk kebutuhan usaha Anda
Temukan lokasi pembelian Elpiji 50 Kg terdekat.
Pada usaha catering, restoran ataupun hotel, kualitas dan kecepatan mempersiapkan makanan adalah kebutuhan yang utama. Untuk itu, diperlukan bahan bakar yang praktis, cepat dan dalam jumlah yang besar. Elpiji 50 Kg merupakan jawabannya. Merupakan LPG yang dikemas dalam tabung baja dengan berat isi LPG sejumlah 50 Kg, Anda tidak perlu sering mengganti dan membeli refillnya. Anda pun dapat memasak dan menggunakannya dengan leluasa tanpa takut harus membeli refillnya setiap hari.


Elpiji Bulk 
 
Elpiji Bulk umumnya digunakan oleh Industri yang membutuhkan LPG dalam skala besar dan digunakan untuk berbagai keperluan antara lain sebagai campuran bahan baku, pembakaran, membantu proses produksi. Elpiji Bulk dikirimkan dalam bentuk curah dengan tangki berukuran besar, dalam satuan MT (Metrik Ton). Untuk Industri yang membutuhkan Elpiji Bulk diharuskan memiliki instalasi penimbukan LPG, mengingat produk tersebut akan ditransfer dari skid tank (kendaraan yang membawa Elpiji dalam tangki berukuran besar) ke tempat penyimpanan LPG yang ada. Beberapa SPPBE yang dimiliki swasta memperoleh bulk LPG secara konsinyasi dari LPG FP (SPPBE milik Pertamina).
 
Tabel Harga LPG CP Aramco (USD/MT)

BulanPropaneButane
Jan-11935920
Peb-11820810
Mar-11820860
Apr-11875890
Mei-11945995
Jun-11855925
Jul-11815855
Agu-11835855
Sep-11790865
Okt-11735815
Nop-11750810
Des-11770820
Jan-12850910
Peb-1210101040
Mar-1212301180
Apr-12990995
Mei-12810895
Jun-12680765
Jul-12575620
Agu-12775775
Sep-12970930
Okt-121025965
Nop-121050990
PropaneButaneJan-11Mar-11Mei-11Jul-11Sep-11Nop-11Jan-12Mar-12Mei-12Jul-12Sep-12Nop-125007009001.1001.300

Spesifikasi Elpiji

Spesifikasi Elpiji PERTAMINA mengikuti Keputusan Dirjen Migas No. 25 K/36/DDJM/1990 tanggal 14 Mei 1990 tentang Spesifikasi Bahan Bakar Gas Elpiji untuk Keperluan Dalam Negeri.

TESTMINMAXMETHOD
Spesilic Gravity at 60/60 °Fto be reportedto be reportedASTM D-1657
Vapour Pressure 100 °F, psig-120ASTM D-1267
Weathering Test 36 °F,%vol95-ASTM D-1837
Copper Corrosion 1 hr, 100 °F-No. 1ASTM D-1838
Total Sulfur. grains/100 cuft
15ASTM D-2784
Water ContentNo Free WaterNo Free WaterVisual
Composition:

ASTM D-2163

-0.2

97.5-

-2.0
Ethyl or Buthyl mercaptan added, ml/100 AG5050

Sudah Siapkah Kita Beralih ke Bahan Bakar Gas?

Program Konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) senilai Rp226 milliar tahun 2012 terancam gagal. Pasalnya, proyek di bawah Kementerian ESDM yang menargetkan pendistribusian converter kit gratis ke masyarakat sebanyak 15 ribu buah. Namun, hanya terealisasi seribu buah saja. Lambannya respon masyarakat terhadap program konversi BBM ke BBG karena terkendala berbagai aspek, di antaranya belum tercukupinya infrastruktur penunjang seperti SPBG di setiap kota dan mahalnya alat konverter kit yang mencapai Rp15 juta per unit.





















Membantu Program Pembatasan BBM Dengan Pengunaan Bahan Bakar Gas

Program pemerintah untuk membebaskan Indonesia dari subsidi BBM pada tahun 2015 terlihat semakin pesimistis. Hal ini diakibatkan ketidakseriusan pemerintah dalam menjalankan programnya yang dimulai dari kebijakan yang tidak konsisten hingga pelaksanaan yang ragu dan tidak siap.

Betul adanya dalam membebaskan Indonesia dari subsidi BBM pada tahun 2015 harus dilakukan program dengan memberikan kepada rakyat energi altenatif selain premium yang disubsidi. Tanpa energi alternatif maka program bebas subsidi tersebut akan sia-sia dan tidak akan berjalan. Energi alternatif tersebut adalah penggunaan BBG pada kendaraan bermotor untuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM) yang subsidinya hampir mencapai 200 triliun. Kurang lebih 67 % dari pendapatan pertamina sebesar 300 triliun terbuang begitu saja akibat subsidi tersebut. Hanya beberapa negara di Asia termasuk Indonesia dan beberapa negara di timur tengah saja diberlakukan subsidi bahan bakar minyak.

Selain itu penggunaan bahan bakar gas (BBG) mau tidak mau harus diprogramkan dan dilaksanakan oleh pemerintah mengingat persediaan minyak dunia semakin menipis dan diperkirakan 25 tahun lagi akan habis, sementara persediaan gas dunia masih diperkirakan 50 sampai 80 tahun lagi. 10 tahun yang lalu negara-negara maju dan bahkan beberapa negara di asia sudah menjalankan program energi alternatif BBG untuk kendaran bermotornya. Bahkan negara maju seperti negara jerman sebagai tahapan berikutnya telah melakukan riset besar-besaran untuk menggantikan bahan bakar minyak atau gas dengan menggunakan tenaga listrik.

Tanpa harus melihat program pemerintah mengenai pembebasan subsidi BBM pada tahun 2015, program penggunaan bahan bakar gas (BBG) atau konversi BBG oleh pemerintah harus serius dijalankan jika pemerintah dan negara tidak mau terjerat oleh krisis energi masa depan. Belum lagi harga bahan bakar minyak ditentukan oleh kondisi negara-negara penghasil minyak dunia yang sedang bergejolak secara politis dan ekonomis, seperti negara iran yang merupakan penghasil minyak nomor 4 terbesar didunia yang sedang diembargo oleh banyak negara.

Saat ini sebenarnya ada dua kendala yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan program konversi bahan bakar gas yaitu kendala infrastruktur yang belum siap (sering disebut-sebut oleh pemerintah atau pakar energi) dan kendala konverter kit itu sendiri yang harus dipasang pada kendaraan bermotor.

Kendala infrastruktur sebenarnya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah mengenai penggunaan bahan bakar gas itu sendiri pada kendaraan seperti penggunaan bahan bakar CNG (Compressed Natural Gas) atau LGV (Liquid Gas Vehicle). Hanya saja ada perbedaan dari kedua penggunaan bahan bakar gas tersebut. CNG adalah gas alam berupa methan (CH4) sedangkan LGV adalah campuran gas hidrokarbon (C3-C4) yang mana penyusun utamanya adalah propana dan butana. Dikarenakan susunan kimia kedua gas tersebut maka khusus untuk CNG atau methan (CH4, yang hanya memiliki 1 karbon) diperlukan tekanan (pressure) yang tinggi untuk memasukkan gas kedalam tangki hingga gas tersebut menjadi cair (kurang lebih 200 bar atau 2800 psi). Dikarenakan jumlah susunan karbon yang banyak maka untuk LGV diperlukan tekanan rendah untuk memasukkan gas kedalam tabung hingga cair.

Jadi untuk membangun stasiun pengisian bahan bakar gas CNG diperlukan teknologi instalasi pipa untuk menghindari dampak bahaya tekanan dalam distribusi bahan bakar gas ke stasiun pengisian BBG. Sedangkan untuk LGV tidak diperlukan teknologi pipa dan dapat dilakukan dengan distribusi tangki pada stasiun pengisian BBG. Hal inilah yang dikatakan oleh pemerintah dan pakar energi Indonesia sebagai kendala infrastruktur atau infrastruktur yang belum siap karena kebijakan pemerintah menetapkan gas CNG untuk kendaraan angkutan umum dan LGV untuk kendaraan pribadi.

Bahkan pemerintah mengusulkan anggaran sebesar Rp. 960 miliar sebagai dana penunjang pembangunan infrastruktur tersebut yang mungkin dapat terlaksana dalam waktu 2 tahun hingga rampung. Jadi keinginan pemerintah untuk melaksanakan konversi bahan bakar gas pada bulan April ini untuk tahap awal di Jabodetabek tidaklah mungkin terjadi. Kesiapan Infrastrukur konversi BBG, diperluas kekawasan Jawa – Bali dan akhirnya program Indonesia bebas subsidi pada tahun 2015 tidaklah akan terwujud.

Sebenarnya kendala utama terletak pada konverter kit yang harus dipasang pada kendaraan bermotor. Selain harganya mahal sebenarnya kendala utama lainnya adalah kesiapan tenaga ah li dalam pemasangan konverter itu sendiri. Hal ini dikarena teknologi otomotif yang sangat bervariasi dan berbeda satu sama lain. Kendala ini berupa kendala mikro sedangkan kendala infrastruktur merupakan kendala makro. Seharusnya kendala mikro menjadi perhatian utama pemerintah setelah kendala makro. Tidak bisa kendala mikro diselesaikan oleh alih teknologi dari negara lain dengan hanya membeli konverter kit misalnya konverter kit dari negara itali karena hal ini menyangkut kebijakan pemerintah yang saling berkaitan. Seharusnya kendala mikro harus diselesaikan oleh anak bangsa yang sarat teknologi sehingga kendala mikro diatasi dengan ahli teknologi bukan alih teknologi.

Dengan memperhatikan kendala mikro dan penguasaan teknologi mikro maka sebenarnya sudah ada konverter kit kreasi anak bangsa yang disesuaikan dengan kebijakan pemerintah. Konverter kit ini lahir setahun yang lalu untuk membantu rakyat dalam mengatasi antrian kendaraan di SPBU luar pulau Jawa akibat kelangkaan BBM.


Gambar : kelangkaan BBM diluar pulau Jawa

Konverter kit kreasi anak bangsa dikembangkan dengan menggunakan bahan bakar gas LPG (Liquid Petroleum Gas) yang merupakan turunan dari LGV (Liquid Gas Vehicle). Gas ini berlainan dengan gas LGV yang akan dipergunakan oleh pemerintah distasiun pengisian bahan bakar gas (SPBU). Jenis gas LGV yang akan diterapkan oleh pemerintah adalah Vigas (Vehicle Gas). LPG dan Vigas kedua-duanya merupakan kelompok LGV yang mana penyusun kimia utamanya adalah propana dan butana. Perbedaannya terletak pada nilai RON oktannya, untuk LPG nilai oktannya 120 dan untuk Vigas nilai oktannya sebesar 98. Artinya Vigas yang akan diterapkan oleh pemerintah sudah disesuaikan oktannya mendekati oktan pertamax yang besarnya 95. Dengan demikian konverter kit yang nantinya akan dipergunakan oleh pemerintah tidak begitu berbeda dengan teknologi mobil saat ini yang menggunakan bahan bakar pertamax.

Solusi cerdas membantu program pembatasan BBM dengan pengunaan BBG secara tidak langsung sudah terjawab. Konverter kit kreasi anak bangsa yang tadinya dipergunakan untuk membantu rakyat dari kelangkaan BBM dapat juga dipergunakan oleh pemerintah untuk program Indonesia bebas dari subsidi BBM pada tahun 2015. Seharusnya pemerintah memperhatikan hal ini karena kebijakan yang dibangun sesuai kebutuhan dalam negeri bukan kebijakan yang didasari oleh ikut-ikutan menggunakan bahan bakar gas (BBG).

Program konversi minyak tanah yang juga merupakan kebijakan pemerintah 5 tahun yang lalu untuk menghapuskan bahan bakar minyak tanah dan digantikan dengan bahan bakar gas (LPG) sebenarnya secara tidak langsung sudah melakukan program pemerintah mengenai konversi bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan bermotor. Kesimpulan ini dapat dimengerti jika pemerintah tidak ikut-ikutan melakukan program pembatasan BBM dengan konversi BBG yang diterapkan oleh negara lain yang sudah menggunakan gas. Seharusnya kebijakan pemerintah harus didasari oleh kondisi dan potensi dalam negeri baik itu potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya.


Gambar : LPG yang dapat dipergunakan untuk memasak, otomotif dan genset

Jika kebijakan pemerintah mengenai pembatasan BBM dengan BBG yang akan dilaksanakan dapat disesuaikan dan dikembangkan dengan kebijakan penghapusan minyak tanah 5 tahun yang lalu maka kendala makro mengenai infrastruktur yang belum siap untuk menjalankan program Indonesia bebas subsidi pada tahun 2015 secara praktis dan teoritis dapat diatasi. Kanapa hal ini tidak dilakukan???

Memang konverter kit dengan menggunakan bahan bakar gas LPG agak berlainan dengan konverter kit yang akan dipergunakan oleh pemerintah menggunakan bahan bakar gas Vigas dengan oktan 98. Tetapi konverter LPG ini telah dikembangkan oleh anak bangsa dan sarat dengan inovasi. Coba bayangkan jika kendaraan tidak saja dapat menggunakan LPG tetapi dapat menggunakan BBM, Vigas dan CNG sekaligus, apakah masalah atau kendala infrastruktur yang selalu diberitakan dimedia masa dapat diatasi??? Paling tidak sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang memerlukan waktu lama dalam pelaksanaannya, program konversi bahan bakar gas dapat juga direalisasikan dengan baik menggunakan bahan bakar gas LPG yang sudah tersedia diseluruh Indonesia bahkan dipelosok-pelosok atau dipulau-pulau. Kebijakan pemerintah selanjutnya mengenai konversi bahan bakar gas (BBG) dapat disesuaikan dan dikembangkan kemudian jika pembagunan infrastruktur sudah rampung dan siap pakai diseluruh Indonesia.


Gambar : Konverter kit kreasi anak bangsa

Setelah uji coba menggunakan konverter kit kreasi anak bangsa dan bahan bakar gas LPG maka didapatkan beberapa keunggulan yaitu :

1. Menggunakan tabung fleksibel
2. Bahan bakar dapat ditemukan dimana saja sesuai program pemerintah mengenai penghapusan minyak tanah menggunakan bahan bakar LPG
3. Harga konverter kit yang lebih murah
4. Kreasi anak bangsa yang sarat dengan inovasi dan bukan alih teknologi
menggunakan barang jadi dari negara yang sudah menggunakan gas
5. Konverter kit yang dapat dikembangkan terus menerus dan disesuaikan dengan kebijakan
6. Bahan bakar menjadi lebih murah

Setelah uji coba didapatkan effisiensi menggunakan konverter kit kreasi anak bangsa : (uji coba mempergunakan mobil Yaris yang termasuk mobil irit)

Konversi kg ke liter untuk LPG sesuai berat jenisnya : 1 kg LPG = 1,7 liter LPG ( +/- 2 liter). Jadi 3kg LPG sama dengan 6 liter LPG (Harga Rp. 15.000,-)

Jika mobil Yaris perbandingan liter dan jarak tempuh menggunakan premium adalah 1 liter ? 10 km maka untuk 6 liter bensin premium dengan harga Rp. 27.000,- adalah 60 km. (Rp. 4.500,- per liter).

Jika dengan bahan bakar gas LPG didapat perbandigan 1 liter : 10 km maka effisiensi : Rp. 27.000 – Rp. 15.000 = Rp. 12.000,-. Effisiensi menggunakan tabung 3 kg kurang lebih 45%. Jika dalam 1 bulan pengguna bahan bakar mengeluarkan dana sebesar Rp. 2.000.000,-/bulan maka dengan menggunakan BBG akan
terjadi effisiensi sebesar Rp. 2.000.000,- x 45% = Rp. 900.000,-.

Jika harga gas LGV khususnya Vi gas Rp. 5.600,- per liter yang ditetapkan oleh pemerintah maka didapatkan harga 6 liter gas Vigas adalah Rp. 5.600 x 6 liter = Rp. 33.600,-. Effisiensi menggunakan tabung 3kg kurang lebih 55%.

Jika harga CNG Rp. 3.100,- per liter yang ditetapkan oleh pemerintah didapatkan harga 6 liter CNG adalah Rp. 3.100 x 6 liter = Rp. 18.600,-. Efisiensi menggunakan tabung 3kg kurang lebih 20%.

Jadi jika pemerintah memperbolehkan penggunaan gas LPG 3kg yang disubsidi maka semua kendala yang dihadapai pemerintah dapat diatasi dan program Indonesia bebas subsidi pada tahun 2015 akan dapat direalisasikan. Efiiensi yang sangat baik juga didapat dari penggunaan gas yang relevan sesuai kebijakan pemerintah lainnya yang sudah berlaku (penghapusan minyak tanah).

Tetapi penggunaan tabung LPG 12 kg akan menghasilkan effiensi yang sama walau tidak disubsidi. Effisiesi juga didapat dari tenaga ahli saat pemasangan konverter kit dikendaraan bermotor dengan setting dan tuningnya. Jika tenaga ahli pada saat pemasangan dapat melakukan setting dan tuning yang baik hingga mendapatkan perbandingan liter dan jarak tempuh 1 : 15 maka effisiensi akan didapatkan lagi kurang lebih 50%. Jadi begitu dahsyatnya penggunaan konverter kit yang disesuaikan dengan bahan bakar gasnya. Ingat nilai oktan LPG mencapai 120 bukan 98 sehingga diharapkan didapatkan lagi effisiensi yang baik dari performance dan pembakaran kendaraan yang sempurna.

Diharapkan pemerintah dapat melihat momentum dan kesempatan ini serta mendukung produk dalam negeri kreasi anak bangsa yang selalu didengungkan oleh pemerintah dan DPR. Tindakan pembiaran konsep dan produk kreasi anak bangsa ini berjalan sendiri tanpa merangkul bahkan duduk bersama membahas semua kendala akan dapat menjadi bumerang bagi pemerintah itu sendiri. Mengayomi dan membantu produk kreasi anak bangsa ini sejalan dengan program pemerintah yang penuh dengan problematikanya seharusnya menjadi perhatian khusus dan secara langsung mendapat dukungan penuh dari semua pihak yang semuanya ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Kepentingan pribadi dan kelompok seharusnya disingkirkan demi kepentingan yang lebih besar yaitu untuk kepentingan dan kebutuhan rakyat Indonesia.(Dip. Ing A Hakim Pane)

Apakah anda setuju untuk mengkonversi BBM ke LPG ?

Pilih Topik

BBG (62) BBM (33) Berita (2) Bio Diesel (1) Bio Ethanol (1) Biogas (3) CBM (1) CNG (41) Converter Kit (14) DME (1) ECU (2) EFI (2) EVCS (1) HAP (1) Hidrogen (2) KBBG (3) Konverter Kit (18) LGV (17) LNG (10) LPG (46) Musicool (2) NGV (4) Produk Kami (14) SPBBG (6) SPBD (1) SPBG (20) SPPBE (1) SPPEK (1) Training (1) V-GAS (8) Vi GAS (10)