Breaking News
Loading...

Info Post
Barangkali ini bukti pemerintah tak pernah benar-benar serius mengembangkan bahan bakar gas sebagai energi alternatif. Begitu banyak imbauan dikeluarkan, tetapi tidak banyak kebijakan konkret yang dikeluarkan untuk memacu pemakaian BBG untuk kendaraan bermotor.

Sebenarnya Pertamina telah mengembangkan penggunaan compressed natural gas (CNG) untuk kendaraan sejak tahun 1986. Awalnya, ada dukungan kebijakan yang menetapkan 20 persen dari armada taksi harus memakai CNG. Pertamina juga membuka 14 stasiun pengisian BBG (SPBG) di Jakarta.

Selain di Jakarta, Pertamina juga sempat membuka satu SPBD di Cikampek, dua SPBG di Cirebon, dua di Medan, dua di Palembang, dan empat SPBG di Surabaya. Pertamina juga menunjuk tiga perusahaan pemasang converter kit sekaligus bengkel BBG di Jakarta, serta satu di Surabaya.

Sayangnya setelah 20 tahun berjalan, pengguna bahan bakar gas tidak berkembang. Tidak ada upaya sistematis dari pemerintah untuk memopulerkan pemakaian BBG. Bahkan, angkutan umum maupun armada taksi yang memakai BBG malah terus berkurang. Bahkan, dari 17 SPBG yang dulu dibangun di Jakarta, kini tinggal 6 yang beroperasi.

PT Gas Biru milik perusahaan taksi BlueBird, misalnya, kini tidak lagi beroperasi, tidak lagi memasang converter kit, dan menutup SPBG miliknya di Mampang, Jakarta Selatan, karena merugi.

Memang kini pemerintah provinsi DKI Jakarta mulai memasyarakatkan BBG lagi, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan pemakaian BBG Mei lalu. Ini dimulai dengan penggunaan BBG untuk bus transjakarta, yang didukung penunjukan PT Petross Gass sebagai distributor tunggal pemasang converter kit sekaligus pemilik SPBG untuk bus transjakarta, dan untuk umum.

Ada harapan pemakaian BBG dipopulerkan lagi, bukan hanya untuk bus dan taksi, tetapi juga kendaraan pribadi. Namun, sejauh ini, pemerintah lagi-lagi belum menunjukkan keseriusan. Pemerintah tak pernah menunjukkan komitmen dengan memakai BBG untuk kendaraan dinas atau kendaraan operasionalnya.

Perlu sosialisasi

Keengganan orang untuk memakai BBG tampaknya lebih pada kurangnya informasi tentang bahan bakar yang hemat, bersih, dan ramah lingkungan itu. Padahal, seperti dikatakan Hardi Pramono, teknisi senior Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) efisiensi atau penghematan dari pemakaian BBG, jauh di atas bahan bakar bensin maupun solar.

Untuk mereka yang berdomisili di sekitar Jakarta, pemakaian BBG, sebenarnya menarik dipilih. “Dibanding bensin atau solar, BBG lebih irit 15-20 persen karena pembakarannya lebih sempurna. Selain itu, harga BBG per liter yang setara dengan premium hanya Rp 3.000 atau 35 persen lebih murah dibanding bensin premium,” ujar Herman, sopir taksi yang sudah sejak tahun 1993 memakai BBG.

Saya sendiri yang selama satu tahun terakhir menggunakan BBG pada kendaraan dinas saya, Nissan Terano keluaran 1998, merasakan penghematan signifikan, dibandingkan dengan memakai bensin premium, apalagi pertamax. Jika penghematan dikonversi dalam rupiah, kendaraan SUV yang menyandang mesin berkapasitas 2.4 Liter itu menjadi sama iritnya dengan sebuah city car (mobil kota).

Mahalnya harga converter kit—yang saat dibeli di PT Gas Biru tahun 2005 masih Rp 7.200.000—praktis sudah kembali dalam bentuk penghematan selama pemakaian 8 bulan pertama BBG.

Keuntungan lain adalah suhu mesin relatif lebih dingin sehingga memperpanjang umur mesin. Karburator bersih, dinding dan kepala piston juga bersih dari kotoran dan kerak, akibat pembakaran sempurna.

Ditanya soal bahaya pemakaian BBG, Eko, teknisi dari PT Gas Biru, mengatakan, “Apa bedanya dengan pemakaian elpiji di rumah-rumah. Banyak orang yang takut memakai BBG untuk mobilnya, tetapi tak keberatan naik taksi yang memakai BBG.”

Pilih yang irit

Sebenarnya, ada dua jenis bahan bakar gas yang populer digunakan, yaitu liquid petroleum gas (LPG, atau biasa diakronimkan dengan sebutan elpiji) dan compressed natural gas (CNG). Sesungguhnya LPG lebih mudah ditransportasikan dari CNG. Namun, karena harganya jauh lebih mahal ketimbang CNG, maka CNG-lah yang dipilih.

Namun, berbeda dengan LPG, CNG tidak dapat ditransportasikan. Penyaluran CNG ke rumah-rumah penduduk dan ke SPBG dilakukan melalui pipa.

Dari segi risiko kebakaran, CNG lebih aman dibanding LPG. Sebaliknya, CNG membutuhkan tabung bertekanan tinggi untuk menyimpannya. Itu sebabnya, untuk tabung silinder berkapasitas 17 liter, misalnya, berat kosongnya saja sekitar 75 kilogram. Setelah diisi, dengan tekanan 200 bar atau 2.900 psi atau 197 kali lipat tekanan udara biasa, beratnya hampir 100 kilogram. Inilah sebagai risiko CNG. Tabung yang tidak memenuhi standar punya risiko meledak.

Keunggulan CNG adalah harganya yang jauh lebih murah, yaitu Rp 3.000 per LSP (liter setara premium), sedangkan LPG di atas Rp 4.000 per kilogram.

“Lemigas sekarang sedang melakukan uji coba elpiji untuk kendaraan. Kami juga melakukan modifikasi converter kit CNG untuk dipakai ke elpiji. Hasilnya baik. Akan tetapi, dari segi finansial, pemakaian elpiji kurang efisien karena harganya hampir sama dengan bensin,” ujar Hardi Pramono.

Hindari risiko

Untuk memperkecil risiko pemakaian BBG, sebenarnya tak banyak yang harus dilakukan. Hal penting yang harus dilakukan justru tak berkaitan langsung dengan BBG, yaitu membersihkan filter udara. BBG mensyaratkan filter udara yang benar-benar bersih.

Adapun untuk peranti BBG, kecuali mengecek saluran pengisian, pencampur udara dan gas, serta kerangan otomatis di kompartemen mesin setiap 6 bulan, praktis tidak ada perawatan lain yang dituntut. Adapun untuk tabung BBG yang diletakkan di bagasi, Lemigas menetapkan pengecekan atau tera tiga tahun sekali.

Untuk menyiasati kehabisan BBG di perjalanan, semua fungsi bahan bakar bensin sebaiknya tetap dipakai. Untuk kembali ke bensin, pengemudi cukup menekan tombol seleksi di dashboard. Cara ini perlu dipilih, mengingat terbatasnya SPBG.

Dibanding pengisian bensin, memang untuk mengisi BBG butuh waktu yang relatif lebih lama. Untuk mengisi tabung kapasitas 17 liter, dibutuhkan waktu sekitar 3 menit. Bandingkan dengan pengisian bensin yang mungkin cuma butuh waktu setengah menit untuk 17 liter. Ini lah yang menyebabkan antrean panjang adalah pemandangan yang biasa terlihat di beberapa SPBG di Jakarta.

Memang saat digunakan, mesin yang memakai BBG tidak seresponsif mesin bensin. Tarikan kurang spontan, meski kecepatan atau tenaga maksimal tetap bisa didapat. Karena tarikan yang tidak spontan itulah, BBG menjadi kurang cocok untuk pengemudi yang gemar ngebut. Namun, untuk lalu lintas di Jakarta yang padat, di mana pula orang bisa ngebut?

Untuk memasang converter kit, biayanya masih relatif mahal. PT Petross Gas sebagai distributor tunggal converter kit yang keagenannya dipegang PT Hyundai Indonesia Motor mematok biaya Rp 11 juta-Rp 15 juta untuk pemasangan converter kit, termasuk tabung BBG. Beda harga ditentukan besar kecilnya mesin dan sistem pembakarannya. Sistem karburator lebih murah dibanding injeksi. “Tapi jika dikalkulasi, biaya itu akan kembali dalam setahun dalam bentuk penghematan biaya bahan bakar,” ujar Jongkie Sugiarto, Presdir PT Hyundai Indonesia Motor.

Converter kit yang ditawarkan adalah regulator produk Italia bermerek Landi Renzo dengan tangki baja merek Faber. Converter kit itu sama seperti yang ditawarkan tiga perusahaan, yang 10 tahun lalu ditunjuk sebagai pemasang resmi converter kit, yaitu PT Gas Biru, PT Supergasindo, dan PT Sugiron Citra Teknologi.

Kini, dengan hanya satu perusahaan penyalur converter kit, memang tak ada persaingan harga dan variasi produk. Juga tidak ada alternatif converter lain seperti produk India, Finlandia atau Kanada, misalnya. “Kalau pemerintah menunjuk beberapa perusahaan untuk secara resmi boleh menjual converter kit, mungkin akan ada persaingan sehingga harganya bisa lebih realistis. Sebab di luar negeri, ada beberapa pilihan converter kit yang lebih murah,” ujar Eko, teknisi BBG yang sebelumnya bekerja di PT Gas Biru.

Selain tabung baja BBG, ada juga tabung aluminium, yang lebih ringan, sekitar 30 kilogram, dan berdaya tampung jauh hingga 30 LSP.

“Yang aluminium harganya tiga kali lipat lebih mahal. Memang lebih enteng dan kapasitasnya besar. Namun, daya tahan aluminium terhadap panas lebih rendah dibanding baja,” ujar Yono, mantan teknisi PT Gas Biru yang kini menjadi teknisi lepas untuk converter kit.

Hardi Pramono dari Lemigas menyatakan, pengujian tabung adalah hal yang mutlak harus dilakukan pengguna BBG. “Kami ketat dalam menguji tabung. Jika tidak layak kami tidak mau kompromi dan kami akan meminta tabung agar tidak dipakai lagi. Ini menyangkut keselamatan,” ujar Hardi. “Kalau secara rutin tabung dan converter kita diperiksakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. BBG adalah alternatif menarik untuk efisiensi,” tambahnya.

Kuncinya ada di tangan pemerintah. Bukan hanya sosialisasi pemakaian BBG yang dibutuhkan, tapi juga dukungan fasilitas dan regulasi tentang penggunaan dan pengawasan. Kalau saja pemerintah punya komitmen dan program yang jelas—tidak sekadar mengajak atau mengimbau—setidaknya kita tak perlu lelah berdebat setiap ada kenaikan harga bensin atau solar. 

Berapa Jarak Tempuh Bahan Bakar Gas?
Beberapa kalangan menganggap bahan bakar gas (BBG) itu bisa lebih boros bila dibandingkan dengan kendaraan yang mengkonsumsi bahan bakar minyak(BBM).

Namun hal tersebut pun dibantah Aji Dwi Wibowo, teknisi PT Autogas Indonesia sebagai pemasok konverter kit LGV (Vigas) dan CNG (Elpiji).

"Menggunakan bahan bakar gas itu sama saja bila kita menggunakan bahan bakar minyak seperti biasa. Apabila kendaraan yang menggunaan bahan bakar minyak itu 1:10, makakendaraan yang menggunakan bahan bakar gas juga akan sama 1:10," ujarnya ketika dihubungi detikOto.

Namun Aji juga tidak mempungkiri kalau bahan bakar minyak itu lebih padat mengisi tangki bila dibandingkan gas.

"Iya seandainya ada perbedaan itu pun tidak akan jauh. Paling melesetnya sangat sedikit, apabila kendaraan bahan bakar minyak itu 1 : 10, maka kami akan mengkonumsi sebesar 1:9," ungkap Aji.

Akselerasi lebih bagus

Poin plus lain dari BBG adalah bahwa kendaraan memiliki akselerasi sama baiknya dengan kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas.

"Karena kami mensetting pada kontrol limitnya sama seperti bahan bakar bensin. Hal ini pun bertujuan apabila kendaraan tersebut bahan bakar gasnya habis maka perpindahan kebahan bakar minyaknya tidak akan terasa seperti berpindah," ungkap Aji.

Penggunaan gas sebagai energi alternatif selain Bahan Bakar Minyak (BBM) belum ditunjang infrastruktur yang memadai. Salah satunya jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang sedikit, hanya sekitar 10 stasiun di Jakarta. 

Kalau 80 juta kaki kubik dialirkan untuk mengisi 600 lebih depo gas, pemberlakuan kuota BBM tidak menjadi masalah.

"Dengan 70 persen sumber energi ada di luar Pulau Jawa, sedangkan 70 persen pemakai ada di Pulau Jawa, maka harus ada alternatif (BBM), yaitu gas," tutur Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Andhika Anindyaguna, di Jakarta, Kamis (24/2/2011).

Ia bicara saat diskusi dampak kebijakan pembatasan subsidi BBM terhadap kelangsungan UKM di Sekretariat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Jl Majapahit, Jakarta Pusat.

Menurut dia, infrastruktur gas tidak tumbuh, sehingga jika ada pembatasan BBM seperti yang akan diberlakukan, infrastruktur gas menjadi penting diperhatikan, khususnya di Jakarta.

"Masalahnya, infrastruktur gas, peralatan konverter disediakan gratis, tapi SPBG jarang," kata Andhika. Jika melihat data subsidi energi dalam RAPBN 2011 sebesar Rp 133,8 trilun, menurut Andhika, 10 persen atau sekitar RP 13 triliun cukup untuk membangun sekitar 650 SPBG. Biaya per SPBG itu sekitar Rp 20-30 miliar.

Adapun suplai gas bisa mengambil 5-10 persen dari 825 juta kaki kubik yang dialirkan PGN tiap hari. "Kalau 80 juta kaki kubik dialirkan untuk mengisi 600 lebih depo gas, pemberlakuan kuota BBM tidak menjadi masalah," tambahnya. "Jika pemerintah siap Go Gas, maka industri otomotif dapat menyesuaikan lima tahun ke depan. Ini akan berkoordinasi dengan menteri transportasi, pengusaha transportasi dan lainnya."

Kemungkinan Penyimpangan Dari Pembatasan Subsidi Kebijakan pembatasan subsidi dapat menyebabkan penyimpangan. Sugiyono, peneliti Indef mengemukakan, kemungkinan angkutan umum yang tadinya tidak aktif menjadi aktif, atau mereka bisa jadi pengecer.

"Ini dapat terjadi karena kita belum mendapat polanya (teknis) dari pemerintah seperti apa," jelasnya. Sedangkan Ketua IWAPI, Rini Fahmi Idris, berpendapat, pembatasan subsidi BBM juga memungkinkan masyarakat akan membeli BBM produk asing, seperti Shell atau Petronas, yang selisih harganya tipis tapi kualitasnya lebih baik.

Apakah anda setuju untuk mengkonversi BBM ke LPG ?